OLAH RAGA

Ironi Bomber-Bomber "Eropa" di Copa America

, Lintas Indonesia
FOTO | ISTIMEWA ]
Jakarta, Lintas Indonesia -- Di atas kertas, Copa America terlihat akan menjadi panggung pertarungan para penyerang papan atas di liga-liga Eropa, seperti halnya Lionel Messi, James Rodriguez, Radamel Falcao, Sergio Aguero, Alexis Sanchez, atau pun Neymar. Sepanjang musim 2014/2015, mereka telah mengisi pemberitaan media dengan berbagai aksi mereka dengan klub masing-masing, sehingga tak heran jika para pendukung negara-negara Amerika Selatan pun berharap mereka bisa melakukannya di level negara. Kepercayaan ini juga ditunjukkan oleh para pelatih yang memilih beberapa dari mereka menjadi kapten untuk mewakili negara. Messi untuk Argentina, Neymar untuk Brasil, dan Falcao untuk Kolombia -- meski ia tak mengalami musim yang baik bersama Manchester United. Namun, pada kenyataannya, jarang sekali magis atau aksi-aksi menarik yang bisa mereka perlihatkan di gelaran Copa America, setidaknya hal ini yang terlihat pada fase grup. Dari nama-nama yang disebutkan di atas, hanya Sergio Aguero saja yang sudah mencetak dua gol dari tiga pertandingan. Sisanya, yaitu Messi, Sanchez, Neymar hanya meraih satu gol, sementara Falcao dan Rodriguez sama sekali tidak bisa membobol gawang lawan. Bahkan, perjalanan bintang asal Brasil, Neymar, pun harus berakhir sangat cepat karena ia mendapatkan hukuman larangan bertanding empat pertandingan. Neymar terlibat keributan dengan Carlos Bacca dan para pemain Kolombia dalam laga yang berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Selecao. Kala itu, Neymar sempat menendang bola pada seorang pemain lawan, mencoba menanduk satu lawan lainnya, dan, menurut laporan wasit, mengumpat pada salah satu hakim garis di lorong menuju ruang ganti. Meski bukan seorang penyerang, namun Arturo Vidal juga bisa dikategorikan ke dalam pemain-pemain yang juga mengecewakan negaranya. Gelandang Juventus tersebut nyaris membuat tim Chile mengalami kerugian kehilangan satu pemain karena ia menyetir setelah menenggak minuman beralkohol dan mengalami kecelakaan. Sempat akan menerima hukuman karena kesalahan tersebut, Vidal akhirnya terbebas dan kemudian mencetak gol dan membawa Chile lolos ke babak selanjutnya -- saat ini Vidal juga menjadi top skor di Copa America dengan tiga gol. Terlepas dari Vidal yang tidak menerima hukuman, rakyat Chile sendiri merasakan kecewaan berat dengan aksi ceroboh Vidal, justru ketika Chile ingin mengakhiri rekor buruk nir-gelar di Copa America. Sebagaimana dituturkan oleh jurnalis The Guardian yang sedang meliput langsung di Chile, Jonathan Wilson, nyaris semua orang yang ia temui di Chile dan media-media Chile mengatakan bahwa Vidal seharusnya menerima hukuman. Cerita tentang kekecewaan ini pun berlanjut pada sosok Lionel Messi. Meski tidak berbuat kesalahan, Messi juga gagal menampilkan permainan terbaik. Tampil hanya satu minggu setelah final Liga Champions, Messi terlihat seperti pemain yang kelelahan dan kehabisan energi. Ia tidak menampilkan insting mencetak golnya yang mengerikan dan lebih sering menyodorkan peluang bagi rekan-rekan setimnya. Tak ada juga aksi menggiring bola secara cepat melewati lawan yang sering ia pertontonkan di level klub. Messi sendiri baru menjalani 69 pertandingan bersama Barcelona sepanjang musim 2014/2015 dan membawa Blaugrana mendapatkan treble. Dalam setiap pertandingan di tiga kompetisi itu, selalu ada peran Messi dalam skuat Luis Enrique hingga ke partai terakhir sehingga ia kini terlihat sebagai pemain yang telah kehabisan gas. Mengingat hanya ada jeda dua hingga tiga hari istirahat jelang perempat final, tampaknya sulit bagi bintang-bintang "Eropa" tersebut bisa tiba-tiba membalikkan keadaan dan tampil prima. Harapan yang tersisa bagi para pendukung untuk melihat kehebatan mereka adalah pertandingan hidup-mati di fase knock-out akan mendorong adrenalin dan memaksa mereka untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Jika tidak, yang terjadi adalah suatu ironi. Ketika negara-negara Amerika Selatan menyumbangkan demikian banyak pemain hebat untuk dinikmati Eropa dan dunia --melalui layar televisi-- justru negara-negara Amerika Selatan lah yang tak bisa menikmati para bintangnya sendiri.

Artikel Terkait
Terpopuler